Jelang Natal 2025

3 hari lalu, dia menghubungiku.
Nomor yang aku hafal di luar kepala siapa pemiliknya.
Dia bilang, dia ada di Jakarta.

Aku lihat kalender di dinding,
tanggal 22 Desember 2025.
Aku kaget.
Terkejut yang tidak direkayasa.
Aku pikir dia akan selamanya di Klungkung.

Sehari kemudian, aku balas pesannya.
Kami sepakat untuk kembali bertemu.
Di GraCi jam 10 pagi.
Semoga pertahananku kali ini tidak runtuh.

Tanggal 24,
aku datang 1 jam lebih cepat.
Kami berbincang biasa,
layaknya kawan lama.

Satu jam berlalu,
dia tidak bisa menerjemahkan kode yang aku lontarkan.
Aku tahu dia pasti tahu betul maksudku
tapi dia bermain Permainan Lelaki Bodoh.

Hari itu, aku pamit pulang lebih dulu.
Tidak ada lagi kesal dan sisa sesal.
Apa yang sudah berlalu memang sebaiknya tidak kembali.
Selamat tinggal dan semoga tidak bertemu lagi.

Terimakasih atas 3 tahun yang ambigu.
Aku melepasmu untuk dicintai perempuan yang kamu inginkan.

Langit 24 Desember 2025.

Cerah, biru dan indah.
Aku pulang dengan hati yang tenang.
Pergilah, Zein.
Cari dan temukan perempuan itu, yang sesuai ekspektasimu.
Aku tak akan pernah sudi mengubah apapun dari diriku hanya untuk mendapatkan hatimu.
Aku berdoa agar Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bertemu lagi di kemungkinan manapun.
Tamat.

Comments